Laporan tentang korban tewas akibat cuaca dingin yang menyelimuti seluruh kawasan Eropa semakin bertambah.
Saat ini jumlah korban tewas diklaim telah mencapai lebih dari 200 jiwa.
Ukraina menjadi salah satu kawasan yang terkena dampak paling parah, laporan terakhir menyebutkan ada sembilan orang yang tewas dalam satu malam kemarin akibat cuaca dingin.
Petugas di negara itu mengatakan jumlah itu menggenapi angka kematian korban tewas akibat cuaca dingin menjadi 131 orang, kebanyakan dari mereka yang menjadi korban adalah tunawisma.
Sementara korban yang menjalani perawatan di rumah sakit negara itu akibat terkena dampak cuaca dingin ekstrem mencapai 1800 orang.
Status siaga
Negara lain yang terkena dampak paling parah akibat cuaca dingin ini adalah Polandia. Kepolisian negara itu mengatakan setidaknya ada delapan orang yang tewas dalam satu malam dan membuat total jumlah korban tewas hingga hari Minggu (05/02) menjadi 53 orang.
Sedangkan di Perancis cuaca dingin ini telah menyebabkan 4 orang tewas dan mengakibatkan 43 departemen di Prancis memberlakukan status siaga terhadap kondisi cuaca yang tak lazim ini.
Cuaca dingin ekstrem di seluruh kawasan Eropa juga telah mengganggu operasi sistem transportasi di sejumlah negara.
Bandara Heathrow di London pada hari Minggu (05/02) hanya menjalankan 50 persen layanannya.
Laporan lain menyebutkan sejumlah barang kebutuhan pokok di supermarket habis di buru warga seperti di Italia yang saat ini mengalami hujan salju terparah dalam 25 tahun terakhir.
Laporan AFP menyebutkan perusahaan operator kereta api di Italia saat ini juga dihadapkan dengan upaya gugatan class action setelah ratusan orang terjebak di dalam kereta api akibat cuaca buruk.
Sejumlah kota di Eropa juga dilaporkan lumpuh akibat dampak dari derasnya salju seperti yang terjadi di Sarajevo, Bosnia. Pemerintah negara itu terpaksa mengerahkan helikopter untuk mendistribusikan bahan pangan dan mengevakuasi sejumlah orang.
Di kota Lelystad, Belanda tercatat suhunya mencapai -21.8C dan merupakan suhu paling dingin dalam 27 tahun terakhir di kawasan itu. (bbc/brm)