Sidoarjo – Riyadhus Sholihin, seorang ta’mir masjid dan guru ngaji warga RT 1 RW 1 Sepande Kauman Candi Sidoarjo, tewas setelah ditembak mati oleh polisi kemarin (28/10).
Sampai sekarang, Maisyaroh isteri korban juga masih terlihat syok, mereka tak mengira kalau hidup suaminya yang sehari-hari menjadi petugas antar jemput karyawan Ecco ini, harus berakhir diujung timah panas anggota polisi. Dia tak mempercayai kalau suaminya lari dari tanggung jawab saat menyerempet orang.
“Suami saya orangnya tidak berani melanggar aturan. Setiap harinya, dalam rumah tangga, selalu mendidik untuk jujur, baik kepada saya sebagai isteri dan dihadapan kedua anak,” tuturnya dengan meneteskan air mata, Jumat (28/10/2011).
Informasi yang beredar, kejadian berawal disaat Sholihin pulang mengantar karyawan Ecco sekitar jam 2 dini hari. Tepat di depan Kafe Ponti, mobil Carry Nopol W-1499-NW yang dikendarai korban menyerempet orang.
Karena takut dikeroyok, korban lantas terus melanjutkan perjalanan dan melintas di Kampung Ringin (Pohon Beringin di Sepande). Disitu korban ditembak bannya dan sempat menabrak pagar rumah warga.
Seorang petugas yang mengendarai sepeda motor mencegat dari arah depan. Dia lalu memecah kaca depan dan bagian samping. Beberapa saat kemudian polisi menembak Sholihin yang masih duduk di kursi mobilnya.
Polisi menyeret tubuh Sholihin dari mobil dan membiarkannya begitu saja tergeletak di aspal. Setelah cukup lama dan mengeluarkan banyak darah, polisi lantas menggotong tubuh Sholihin ke mobil Avanza dan membawanya.
“Korban kemudian diduga ditembak oleh pengejar yang jumlahnya sekitar sembilan orang,” tandas pria yang kebetulan saat kejadian lewat di TKP.
Siang Sholihin pun dilaporkan meregang nyawa.
Warga mengaku tragis melihat kejadian ini. Warga yang mendekat ke mobil Sholihin tidak melihat adanya senjata tajam di sana, apalagi celurit.
Narto keponakan korban juga menyayangkan tindakan polisi yang asal tembak itu. Ucap dia, meskipun itu kasus serempetan, mestinya harus diurus sesuai aturan yang ada. Dan tidak harus ditembak mati
“Bisa jadi korban meneruskan perjalanan karena tidak merasa menyerempet seseorang. Masak serempetan saja ditembak mati,” papar warga Siwalankerto Surabaya itu.
Sementara itu insiden penembakan polisi ke warga, telah dua kali terjadi di Jatim. Sebelumnya, insiden peluru nyasar yang mengenai Ketua DPC Partai Golkar di Sumenep. Ini menunjukan ketidakterampilan dan ketidakprofesional polisi dalam menggunakan senjata api.
IPW juga menyayangkan banyaknya polisi yang tidak pandai beladiri, sehingga banyak yang memilih jalan pintas menggunakan senjata api saat berhadapan dengan orang yang diduga penjahat. (bj-tn-amd)
