Noordin M Top
PONTIAN – Setelah tertunda dua pekan, jenazah gembong teroris asal Malaysia, Noordin M. Top, dimakamkan di tanah kelahirannya, Pontian, Johor, Malaysia, kemarin. Sebagaimana telah diprediksi, pemakaman tersebut dihadiri lebih dari 500 orang pendukungnya.
Pekik takbir mengalun membahana di sepanjang perjalanan jenazah dari masjid menuju lokasi pemakaman. Dalam kalimat terakhir untuk mengantar jenazah ke persemayaman, keluarga menolak meminta maaf kepada pemerintah Indonesia.
”Kami mewakili keluarga menyampaikan kesan kecewa atas apa yang berlaku. Kepolisian dan pemerintah Indonesia telah berbuat tidak adil dengan menahan jenazah terlalu lama,” kata wakil keluarga besar Noordin, Supriyono, kepada puluhan wartawan yang mengabadikan momen tersebut.
Pria itu lantas menceritakan sejarah singkat kehidupan Noordin kepada pelayat. Supriyono membacakan riwayat hidup Noordin yang lahir di Pontian, yang kemudian kerap berprestasi hingga menjadi dosen di Universiti Technology Malaysia (UTM).
Dalam taklimatnya yang dibaca dengan gemetar dan tersedu, pria tersebut berkali-kali mengucapkan bahwa almarhum Noordin adalah orang saleh. Mewakili Noordin, dia pun meminta maaf kepada semua keluarga dan orang dekat yang pernah disakiti secara pribadi.”Tapi, jalur jihad yang telah ditempuhnya ini merupakan pilihan yang harus kita hormati,” ujarnya dalam bahasa Melayu.
Pengamanan superketat diberlakukan Kepolisian Malaysia. Setiap wartawan yang hendak meliput didata berulang-ulang. Tak sedikit wartawan Indonesia yang diamankan dan diinterogasi di mobil mereka. Suasana menjelang kedatangan jenazah pun terlihat mencekam karena puluhan orang mondar-mandir sambil menenteng senjata di balik jaketnya.
Salah seorang kakak ipar Noordin yang ditemui di masjid sempat menyampaikan keluh kesahnya. Dia berharap pasca pemakaman itu, Kapolri dengan lapang dada menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga. Hal itu terkait dengan pernyataan Mabes Polri yang sempat menyampaikan agar jenazah Noordin segera dipulangkan ke Malaysia. ”Kami pernah melihat di televisi mereka bilang ‘Ini kami pulangkan orang Malaysia yang sudah meneror negeri kita’, apa maksud kalimat itu?” tanyanya.
Tak lama kemudian, Yahya M. Top memberikan isyarat agar semua pelayat tidak berisik. Imam Masjid Nurul Iman H Kasim memulai salat jenazah. Selesai salat jenazah, pekik takbir pun mengiringi peti mati hingga ke liang lahad.
Ketika keluarga berhasil membuka peti mati, tampak wajah Noordin menghitam. Besar kemungkinan itu akibat bahan pengawet atau karena terlalu lama disimpan di peti es. Salah satu anggota keluarga yang sempat mengabadikan wajah Noordin lantas menunjukkan jepretan kameranya kepada sejumlah wartawan yang tertahan di belakang police line. ”Ini akibat polisi Indonesia,” ujarnya.
Selesai pemakaman, Yahya menyatakan dengan sah bahwa jenazah itu adalah adiknya. Dia tak banyak berkomentar dan memilih diam ketika mendengar pertanyaan wartawan. Dengan wajah sedih, dia menghampiri beberapa anggota keluarga lain dan mulai berpelukan. ”Kami terima apa yang berlaku” katanya menutup prosesi pemakaman. (*/iro)
Disalin dari Harian Pagi Jawa Pos edisi tanggal 3 Oktober 2009