Jakarta :Memasuki tahun 2012 di keperkirakan tingkat kebencian masyarakat kepada aparat kepolisian meningkat. Sepanjang 2011 , Indonesia Police Watch (IPW) mencatat ada 65 kantor polisi yang dibakar masyarakat. IPW melansir pembakaran-pembakaran tersebut merupakan reaksi sakit hati atau kekesalan atas sikap represif polisi dalam menghadapi rakyat, dari 65 perusakan fasilitas milik polisi tersebut, rata-rata diawali unjuk rasa. .
Berdasarkan hasil penelitian IPW. perusakan terbanyak di tahun 2011 terjadi di Batam dalam aksi buruh yg disikapi secara represif oleh polisi. Ada 18 kantor polisi yg dibakar buruh, perusakan kantor polisi yang terjadi sepanjang tahun 2011 naik 325 persen lebih (45 kasus) dibanding 2010. Semua ini tidak berdiri sendiri, melainkan akibat sikap represif polisi yg kemudian dilawan oleh masyarakat.
IPW melansir, pada (28/12), sebuah pos polisi di depan kampus UMS di Sukoharjo, Jateng, dirusak mahasiswa dalam aksi demo memprotes penembakan di Bima, NTB.
Pada (26/12) sekitar 300 massa merusak Polsek Lembor, Manggarai NTT gara-gara tahanan polsek tersebut Arnaldus Hapong (40) tewas disiksa polisi. “Aksi ini reda setelah aparat Kodim setempat turun tangan,” kata Ketua Presidium IPW Neta Saputra Pane, Selasa (3/1). Pada (26/12) pos polantas Jalan Urip Sumarjo Makassar dirusak massa dalam aksi demo Aksi Front Rakyat Menggugat (Forgat) dilakukan untuk memerotes penembakan aparat di Bima.
Dalam aksinya, massa Forgat menyerang berbagai sisi pos polantas yang ditinggal penghuninya, dengan menggunakan batu dan balok kayu. Pada (25/12) tiga pos polisi dirusak ratusan mahasiswa asal Bima di Makassar, Sulsel. Massa turun ke jalan memerotes aksi penembakan warga di Pelabuhan Sape, Bima, NTB. Dalam aksinya, mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Anti Tambang (Granat) menyerang pos polisi.
Yakni pos polisi di depan rumah jabatan Gubernur Sulsel, pos polisi di depan kantor konsulat Jepang, dan pos polisi Operasi Lilin Lipu di depan Mall Ratu Indah di Jalan Ratulangi. Pada (24/12), lima kantor polisi di Bima, NTB dirusak dan dibakar warga. Yakni kantor polres dan empat polsek. Ratusan warga yang sedang demo semakin marah setelah mendapat perlakuan represif dari polisi.
Massa juga membakar rumah dinas Kapolsek, empat unit asrama polisi, dan gedung BTN. “Kantor unit pelaksana teknis daerah kehutanan, kantor dinas pemuda dan olahraga, tiga bangunan BTN, gedung kantor urusan agama, dan 25 rumah warga dirusak,” kata Neta. Kemudian (28/11), ratusan warga di Desa Gunung Endut, Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, merusak tiga pos polisi, Yakni, pospol Simpang Tiga Cibadak, pospol Pasar Cibadak, dan poslantas Lintas Pamuruyunan.
Sikap anarkis ini dilakukan massa, pasca mengikuti sidang penganiayaan yang menewaskan Genta (20) di PN Cibadak. Pada (24/11), Delapan belas pos polisi dan 11 mobil polisi di Batam dibakar ribuan massa buruh yg demo. Pos polisi yang dibakar itu antara lain Pos Lubuk Baja, Simpang Kabil, Pinguin, Simpang Jam, Pelita, Jodoh, Muka Kuning, Batam Center, Nagoya Hills, Nagoya Niaga, Simpang Panbil, Perumahan Aviari, dan Simpang Harmoni.
Pada (20/11), tujuh pos polisi dirusak massa di Ambon, Maluku pasca pemakaman Dany Polanunu (17) yang tewas diduga akibat dipukul polisi lalulintas. ketujuhnya adalah kantor Dirlantas Polda Maluku, Pospol Tugu Trikora, Pospol Jl Babullah, Jl Samratulangi, Ambon Plaza, Mardika, dan Batu Merah. IPW juga mencatat pada (28/8), satu mobil patroli Polsek Cireunghas, Kota Sukabumi jadi korban amukan warga Kampung Cikaso, Desa Cibencoy.
Aksi ini dipicu tindakan polisi yang melarang warga bermain bedil lodong (meriam tradisional terbuat dari bambu). Mobil patroli itu nyaris dibakar warga. Sederet amuk massa terhadap polisi juga berturut-turut terjadi di Medan, Polsek Uluere, Bantaeng, Sulsel; Polsek Kampar, Riau; Pospolmas di Palu; Polresta Cirebon, Polsek Kamu, Dogiyai, Papua; dan berbagai tempat lain dengan motif yang beragam.