SURABAYA : Berikut ini komentar dari sekretaris ASHOUM (Aliansi Solidaritas Umamat) Surabaya yakni ustadz Zulkarnaen Yusuf seorang dai yang dibesarkan dari keluarga Larantuka,posto Nusa Tenggara Timur mengenai peristiwa aksi massa disape Bima. Beliau menjelaskan bahwa bicara mengenai kejadian sape di Bima maka kita harus melihatnya dari dua sisi. Pertama kita harus melihat NKRI bahwa dalam salah satu bunyi sila dalam pancasila adalah kemanusian yang adil dan beradab tapi yang terjadi di Sape Bima sangat bertolak belakang, rakyat melakukan aksi blokir bulan desember lalu justru ditanggapi dengan membunuh mereka dengan cara menembakinya seperti burung hingga akhirnya jatuh korban jiwa.
Maka dalam hal ini pemerintah telah gagal melaksanakan hukum yang adil bagi setiap masyarakat, tatkala massa melakukan aksi justru mereka ditembaki sedangkan tatkala masyarakat membalas aksi penembakan tersebut dengan cara membakar dan membebaskan teman-teman mereka di penjara justru mereka diteriaki anarkis dan vonis ini tidak hanya diucapkan oleh pemerintah saja tetapi media-media kuffar juga menyuarakan hal ini. Siapa sebenarnya yang bertindak anarkis warga atau pihak polisi, ini yang perlu dijawab secara jujur, ujarnya.
Saya menganalisa bahwa masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) pada umumnya adalah muslim yang taat khususnya Bima, hal ini justru tidak disukai oleh Barat dalam hal ini Yahudi dan Nashroni tentang kekayaan alamnya baik hasil bumi maupun tambang emasnya. Tambang-tambang emas serta hasil bumi lainnya di NTB umumnya dikuasai oleh umat Islam, tambang emas di NTB diyakini terbesar kedua setelah PT Freeport di Papua, ini yang menjadikan penyebab dari berbagai peristiwa tersebut.
Kedua yakni persoalan Ideologi yang apabila tambang-tambang emas di NTB secara keseluruhan bila dikuasai umat Islam maka dikhawatirkan Islam akan semakin berkembang dan semakin maju.
Jadi semuanya saya serahkan kepada umat Islam bagaimana menyikapinya, sebab saat ini umat Islam di Indonesia sebenarnya mengakui kegagalan pemerintahan saat ini tapi mereka juga enggan kalau syareat Islam tegak di Indonesia. Maka dalam hal ini harus ada media penyeimbang dari setiap persoalan yang menyangkut umat Islam secara umum, supaya umat Islam Indonesia sadar bahwa menyelesaikan semua peristiwa ini hanyalah satu yakni kembali kepada aturan-aturan ALLAH SWT, jelasnya. (det/det)